29 December 2007

Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007)

Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007)


Kebangsaan adalah sebuah proses panjang dan melelahkan ihwal perumusan apa yang disebut identitas untuk pemuliaan manusia. Karena itu kebangsaan kerap disandingkan dengan perjuangan mencipta kondisi tumbuhnya situasi kemanusiaan yang di kemudian hari memadat menjadi semangat baru bernegara, yakni nasionalisme.


Perjuangan itu mengambil banyak bentuk dan varian dalam skema perjuangan. Sebelum abad 20, skema perjuangan dominan dilakukan lewat cara-cara peperangan dan adu pasukan di medan laga. Namun dalam dasawarsa pertama abad 20, pola perjuangan memasuki titik perubahan yang cukup signifikan. Titik perubahan itu dipicu oleh sebuah kesadaran baru tentang jalan cetak atau jalan pers. Sekaligus jalan pers ini menjadi semacam pembeda dengan jalan nasionalisme yang ditempuh India yang bertumpu pada hirarki kasta atau nasionalisme Rusia yang memperjuangkan perbenturan kelas dan melahirkan komunisme atau Inggris yang lahir dari gilda dan pasar para borjuis.


Tesis bahwa bangunan kebangsaan kita dididirkan dari tradisi pers bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu “guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. “Tiga Serangkai” Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express. Semaoen diusianya 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewirjo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia. Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan bahu-membahu bersuara dalam majalah Pemimpin. Adapun Soekarno menjadi pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menakhodai Daulat Ra’jat. Bahkan Amir Sjarifuddin dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng, serta masih banyak lagi.


Walau tingkat pendidikan mayoritas rakyat masih rendah, para tokoh pergerakan itu sadar bahwa lembar pers bisa dijadikan medium mengampanyekan ide-ide nasionalisme selain mimbar-mimbar pertemuan. Dengan pers pula pesan dan gagasan memiliki tingkat aksesibilitas dengan cakupan luas, terutama di kancah internasional. Selain itu, dan ini menjadi ciri dari masa percobaan ini, bahasa Indonesia memungkinkan dibentuk dan diberi rumah baru.


Yang menjadi soal kemudian kapan permulaan pertama yang dengan kesadaran penuh menjadikan pers sebagai alat pergerakan dan menjadi kuda tunggangan pembibitan semangat membuat rumah bagi bahasa dan usaha menyatukan kolektivitas tanah dan air dalam semesta kesadaran berbangsa. Peritesis itu kemudian mempertemukan kita dengan sepotong nama Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji yang terbit pertama kali di Bandung pada 1907. Tahun 2007 adalah tepat seabad suratkabar mingguan dengan motto di kepala korannya: ja’ni swara bagai sekalian Radja2 Bangsawan Asali dan fikiran dan saudagar2 Anaknegri, lid2 Gomeente dan Gewestelijke Raden dan saudagar bangsa jang terprentah lainnja.”


Menjadikan Medan Prijaji sebagai patok Seabad Pers Kebangsaan dialasdasari pertimbangan sebagai berikut: Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan berkaok-kaok di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.


Kedua, visi Medan Prijaji yang tereksplisitkan dalam jargonnya yang beridentitaskan kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan hari ini setelah Medan Prijaji tak ada. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa. Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain jalan pers dengan mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan lewat jalan berorganisasi. Titik tuju dua tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia mengonsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.


Keempat, karena dilakukan secara sistematis itulah maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah di mana sejarah menjadi patok untuk aksi sejarah ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu dan orang menilai peristiwa itu sebelum dan sesudah peristiwa itu berlangsung. Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerak selanjutnya. Bahwa sudah ada yang terbit duluan, itu tidak jadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa diserukan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.


Dan kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernih melihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.


Kelima alasan itulah kemudian kami bersikukuh bahwa patok pers kebangsaan adalah Medan Prijaji dan Tirto Adhi Surjo menjadi pemancang patok itu. Dengan memancangkan patok ini paling tidak kita menarik dua hal: (1) memiliki protagonis atau tokoh idola yang diteladani baik di dunia pers maupun dalam pergerakan; (2) kita bisa menafsirkan sejarah Indonesia dalam perspektif yang baru. Dengan mengambil Tirto Adhi Soerjo sebagai model, maka polemik bahwa Indonesia dibangun oleh kalangan Jawa atau kalangan Islam itu bisa diselesaikan. Dan itu menjadi sumbangan berarti bagi pembelahan bangsa yang panjang ini, sebagaimana kita saksikan di sidang-sidang konstituante bagaimana pembelahan negera Islam dan negara nasionalis terjadi. Kalis melihat soal itu, kita pun terdorong ke sistem Demokrasi Terpimpin yang berakhir tragis pada peristiwa G 30 S.


Orang selalu mengatakan bahwa gerakan yang pertama kali berlingkup nasional itu adalah Sarekat Islam. Yang lain mengatakan bahwa yang pertama adalah Boedi Oetomo yang berarti Jawa. Orang tak sadar bahwa kedua gerakan yang dipertentangkan itu lahir dan bermuara pada sumur yang sama, yakni Tirto Adhi Soerjo. Jadi tujuan Tirto/Medan Prijaji adalah memerdekakan. Dia dengan jelas memberitahu konsepsi kebangsaan itu tidak dibangun berdasarkan atas suku dan agama, tapi gerakan intelektual, kesadaran bahasa, dan keyakinan bertanah air. Jadi jika dicari semua gerakan itu, terutama gerakan nasionalis dan gerakan Islam, bersumbu pada sumur yang sama.

* * *


Manggadua, 7 Desember 1918. Sebuah iringan kecil—sangat kecil—mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir. Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada pewartaan atas jasa-jasa dan amalan dalam hidupnya yang kalis bersabung maut dan berakhir sunyi senyap. Sebab selepas itu orang pun meninggalkannya, sejarah mengabaikannya, dan namanya nyaris tercoret dari sejarah pers dan pergerakan kebangsaan. Cuma ada dua potong berita nekrologi yang ditulis Marco Kartodikromo yang mengabarkan kepergiannya dimuat di Sinar Hindia (12 Desember 1918) dan Djawi Hisworo (13 Desember 1918).


Hari ini, 7 Desember 2007, tradisi pers Indonesia menapaktilasi perjuangan Tirto Adhi Soerjo selama seabad dan menarik kehadiran Medan Prijaji sebagai patok dimulainya sejarah pers kebangsaan. Dan sekaligus hari ini ditandai sebagai tonggak Hari Pers Indonesia, tepat di hari ketika Tirto wafat di mana dalam sepanjang hidupnya sudah meneguhkan tugas dan posisi pers: bagaimana pers mesti berhadapan dengan kekuasaan, bagaimana pers mesti membangun perniagaan untuk bisa bertahan dan hidup sehat, serta bagaimana mestinya keberpihakan pers terhadap masyarakat lemah dalam membangun kritisisme dan sekaligus mendorong keswadayaannya.
(Taufik Rahzen, Kurator)



.::…::.
PAMERAN “SAMPUL PERS INDONESIA”
7 Desember 2007-6 Februari 2008
Pukul 10.00 – 18.00 wib (kecuali hari Minggu)

Gedung Indonesia Menggugat,
Jl. Perintis Kemerdekaan 5 Bandung 40111
(022) 4202115, indonesiamenggugat@gmail.com


refleksi setahun jadi blogger

awal nge-blog iseng-iseng. Masih ikut-ikutan saja. Posting tulisan juga kalau ingat saja. Belum teratur sehari satu. Apa yang di posting pun masih apa yang ada di komputer atau cd. Maksudnya, tulisan lama yang dipublikasikan kembali. Dulu, lebih sering nulis di koran, majalah, ataupun buku (media cetak biasa). Masalahnya, setelah makin mengenal seluk-beluk blog makin ketagihan. Malah sekarang lebih rajin menulis untuk blog ketimbang menulis untuk koran dan majalah. Di blog bisa lebih bebas menulis apa pun. Berbeda dengan menulis untuk koran dan majalah, ada editor yang menyortir tulisan yang masuk. Setiap koran dan majalah pasti memiliki policy redaksi yang berbeda. Sedangkan di blog kita bisa menulis apa pun juga. Bebas sekali. Apa pun bisa dimasukkan sebab kita sendiri yang menjadi editornya. Di blog kita menjadi penulis, penata letak, marketing, sekaligus editor, pemimpin redaksi merangkap pemimpin umum. Semua pekerjaan media ditangani sendiri.

Awal nge-blog di blogdrive. ini pun karena tidak tahu yang lain. Kemudian pindah ke blogger.com. Seiring waktu dan keliling ke blog-blog lain, baru tahu bahwa banyak juga penyedia layanan blog gratis. salah satu yang selalu direkomendasikan ialah wordpress.com, ini salah satu blog yang menjadi pesaing utama blogger.com. by the way, masih banyak penyedia blog gratis lainnya yang belum sempat coba. Karena kemudahan menata sendiri blognya, jadi susah pindah dari blogger. Maklum, tak tahu banyak teknis design web dan hosting. Benar-benar belajar dari nol ttg blog.

Kadang-kadang mengunjungi juga blog-blog yang sudah memiliki pengalaman panjang. Dari situ banyak belajar lagi ttg blog. Mulai tahu blog itu untuk apa? Gimana etika blog, bagaimana membangun jaringan, juga bagaimana ngulik setting template. Pokoknya, macam-macam yang bisa dipelajari dari blogger senior. termasuk yang dipelajari dari mereka ialah bagaimana mendapatkan uang dari blog. Yang terakhir ini paling banyak peminatnya dari indonesia. Paling ramai diperbincangkan, sekaligus paling ramai ditulis.

Salah satu guna blog bagi orang yang suka menulis ialah melatih diri untuk terus-menerus menulis. Dengan menulis di blog secara rutin, mau tidak mau, menambah keahlian menulis. Mematangkan teknik menulis, dan melatih diri menulis saban hari. Blog bisa dijadikan tempat melatih diri menulis. Tempat mengasah diri.

Ada lagi guna blog: menambah kawan-kawan. Dari blog (disamping mailing list), kita bisa menambah jaringan. Tanpa sadar, blog sudah menjadi jaringan tersendiri. Untuk di indonesia sendiri sudah ada ribuan blogger.

Guna blog lainnya ialah refleksi diri. Dari blog kita bisa melihat sejauh mana perkembangan diri kita. Blog bisa menjadi media untuk melihat perkembangan pikiran dan perkembangan kita dari waktu ke waktu. Ya gak jauh seperti diary. Bedanya, diary seperti ini dapat dilihat oleh orang lain.

[Itu saja dulu. Sambungannya menyusul….]

27 December 2007

Tiarma Sirait, Pink Fashion, Synthetic Love


Hingga detik ini, saya belum pernah lihat langsung fashion shownya karya-karya Tiarma Sirait. Lihat karya aslinya pun belum pernah. Saya hanya tahu karya-karyanya dari foto, buku acara, atau pun pembicaraan beberapa orang. Jadi susah juga untuk memahami karya-karyanya secara tepat. Apa boleh buat, kalau memang senang lihat karya-karyanya ya buat komentar saja ketimbang dipendam dalam benak.

Tanpa sengaja saya menemukan buku acara synthetic love. Sekilas pandangan mata, yang dominan hanya warna pink. Warna yang identik dengan keceriaan, riang selalu, dan muda. Judulnya pun agak nyerempet dengan semangat orang muda, love! By the way, jangan terjebak dengan judul atau pun warna pink. Ini tak hanya membicarakan persoalan cinta, malah jauh lebih rumit daripada itu. Sebabnya love dalam pengertian Tiarma Sirait masih diimbuhi dengan titel synthetic. Tentu ini bukan cinta biasa, bukan cinta yang dipahami oleh orang pada umumnya. Ini cinta spesifik, lebih tepatnya cinta yang lebih banyak mengandung konsep daripada sekadar nuansa romans.

Baca pengantar Rifky Effendy. Dalam prawacana ini, Rifky menghubungkan proyek synthetic love dengan capitalistic social life. Dimana tubuh perempuan disusun sebagai bagian dari rencana besar produk medis dan teknologi kecantikan. Pada intinya, Rifky mengaitkan karya Tiarma ini dengan isu yang diusung feminis kontemporer: konstruksi atas tubuh. Benarkah demikian? Bagi saya, itu terlalu jauh. Karya-karya Tiarma lebih terlihat ceria dan cool. Warna, tekstur dan kostum lebih terlihat atraktif serta menyenangkan mata. Ceria, riang, dan sejuk.

Dari rekaman-jejak judul pameran tunggalnya, seperti After Party (2004), Me, My Self & Barbie’s Smile (2004), dan Sweet Lolly (2001), Tiarma masih belum menyelesaikan proyek “Smile & Sweet”-nya. Masih dalam satu rangkaian exhibition. Menurut saya, Tiarma lebih dekat kepada art fashion ketimbang fashion. Dengan kata lain, ia memadukan antara fashion, conceptual art, dan pertunjukan.

Karya-karya Tiarma ini jelas sekali menyempal dari industri fashion. Menyempal dari “tradisi” indah-langsing-anggun. Ia membentuk gaya sendiri, gaya untuk melawan arus. Maklum, itulah seniman. Cara pikirnya diluar cara pikir mainstream.

Yang jelas: karya-karya Tiarma enak dipandang. sweet, smile, cool.

[yang jelas: saya belum pernah melihat langsung fashion performance, apalagi menyentuh karya-karya Tiarma. Maklum, belagu pisan ihwal fashion.]

26 December 2007

blogging for money

Siapa saja pasti berharap mendapatkan uang dari blog. Apalagi blogger yang sudah rajin posting. Ya, uang sampingan alias uang yang diperoleh untuk menambah penghasilan. Setidaknya bisa menutupi pengeluaran-pengeluaran tak terduga. [malah ada yang sudah menjadi penghasilan utama].

Berminat? Silakan coba join ke Google Adsense, AdBrite, Text Link Ads, Bidvertiser, dan yang lainnya. Banyak pilihan untuk para blogger. Ada pula yang mendapatkan uang dengan me-review produk tertentu. Jika suka berdagang bisa juga sign up di ZLIO atau AMAZON.

Suka kunjungi situs? Untuk orang yang suka berkunjung ke situs-situs tertentu bisa bergabung dengan program Paid Per Read. Dengan mengunjungi situs-situs yang disediakan, anda bisa mendapatkan beberapa dolar. Untuk ini, uang yang diterima tergantung seberapa rajin mengunjungi situs yang wajib dilihat. Soalnya, setiap mengunjungi situs tertentu hanya diberi beberapa sen (dollar). Tiap penyedia program ini berbeda-beda besaran sen yang diberikan setiap mengunjungi situs yang disediakan. Ada beberapa penyedia program ini, misalnya boffopaidmail, workmails, dan masih banyak lagi.

Untuk blogger Indonesia sudah banyak yang mencoba. Dan sudah mendapatkan uangnya.

Yang perlu diingat, ada pula program seperti tersebut di atas yang penipuan alias SCAM. Kita sudah berusaha tapi mereka tidak membayar sepeser pun. Oleh karena itu berhati-hatilah. Lihat komentar blogger yang sudah berpengalaman mendapat uang dari blognya.

Jika anda berminat, silakan mencoba. Silakan memulai. Dan, dapatkan uang dari blog anda. Semoga sukses.

Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PKS

Menjelang Pemilu 2009, partai-partai politik di Indonesia semakin sibuk. Sibuk menjalin aliansi temporer, sibuk menggalang massa, sibuk membuat pernyataan. Lihat saja geliat di tubuh pengurus Partai Golkar, Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung masih meributkan ihwal Konvensi Partai. Akbar Tanjung berharap partai beringin ini menyelenggarakan konvensi, dimana ia memungkinkan untuk masuk sebagai kandidat. Di sisi lain, Jusuf Kalla ingin mengamankan pencalonannya sebagai presiden/wakil presiden. Pencalonan kandidat tanpa konvensi berarti kemunduran bagi Golkar. Karena hanya elit partai saja yang masuk dalam daftar kandidat. Sedangkan orang-orang partai di luar pengurus dan orang diluar partai tidak mendapat tempat untuk maju bertarung. Langkah mundur bagi Golkar, sebab semakin mengecilkan kesiapan Golkar pada perubahan iklim politik di Indonesia.

Selain Golkar, yang sudah sibuk duluan ya, PDIP. Megawati dan pendukungnya sudah sibuk membangun citra kandidat. Memang, PDIP sudah identik dengan Megawati. Begitu pula sebaliknya. Terkesan, geliat di tubuh PDIP hanya untuk pencalonan Megawati saja. Tidak terlihat keluar, bagaimana persiapan PDIP dalam usaha menambah anggota di parlemen. PDIP masih sibuk dengan sosok Megawati.

Berbeda dengan geliat di Partai Demokrat. Demokrat masih sibuk membangun cabang dan merumuskan strategi. Kandidat presiden yang diusung oleh partai ini pasti SBY. Sebuah keputusan yang susah untuk diubah. Dari berita-berita dapat dilihat naiknya aktivitas partai untuk membangun jaringan di seluruh Indonesia. Sang ketua umum partai sibuk bertemu, membuka, meresmikan cabang-cabang partai.

Tiga partai tersebut di atas sibuk dengan pencalonan presiden/wakil presiden, PKS lain lagi. Partai ini lebih sibuk untuk menambah kursi di parlemen. Tidak memaksakan diri untuk mencalonkan orang dari internal partai. Partai ini lebih senang “melihat ke depan”, membangun kekuatan setahap demi setahap. Sebuah partai kader yang semakin lama semakin besar.

Bagaimana dengan partai-partai kecil yang mau ikut Pemilu. Untuk kandidat presiden/wakil presiden mereka masih melihat-lihat untuk mendukung siapa dan partai mana. Strategi yang disiapkan masih seputar bersekutu dengan partai mana dan mendukung siapa. Sedang untuk kursi di parlemen, mereka pasti mengejar kursi sebanyak mungkin.

(ARAHMAN ALI)

23 December 2007

ngeblog in english

saya menemukan jawaban yang bagus dari blog Pogung177, ia menjawab pertanyaan dari Arief yang berbunyi: “Pogung, i’m glad to know indonesian who want to blog in english, just like me, want to improve me english.”

Jawaban Pogung menyenangkan hati, “ If you running business on global world, prepare your language skill, so don’t be worried with your grammer, just be confident with your own skill.”

Jawaban seperti ini tentu saja akan menyenangkan hati. Ber-english-lah terlebih dahulu. Masalah grammar dan sebagainya bisa dibetulkan kemudian. Yang terpenting untuk saat ini ialah memulai menulis apa saja yang muncul di pikiran dalam bahasa Inggris. Untuk membetulkan grammar ataupun logika tulisan bisa menyusul. Yang dibutuhkan ialah keberanian untuk memulai. Harus percaya diri bahwa siapa pun bisa belajar bahasa asing, tinggal keberanian untuk memulai. Skill akan menanjak dengan sendirinya. Oh ya, ada satu ketentuan lagi, mau memperbaiki secara terus-menerus skill ber-english-nya.

Untuk kamus indonesia-english, bisa beli di toko buku (gramedia, gunung agung). Banyak kamus tersedia untuk belajar bahasa inggris. Trus, untuk belajar hal lainnya bisa dilihat dalam buku-buku lainnya, yang berhubungan dengan bahasa inggris.

Yang saya sesalkan, mengapa pelajaran bahasa inggris yang saya pelajari sewaktu SMP dan SMA dikit yang nempel. Bayangkan saja,enam tahun belajar grammar dan menulis dalam bahasa inggris, hasilnya menyedihkan. Memang dalam ulangan sekolah, nilai selalu bagus. Namun, sayangnya praktek di lapangan tidak begitu menghasilkan: english ku masih berantakan. Baca buku berbahasa english masih ngerti, mendengar orang ngomong dalam english masih mengerti. Tetapi ketika harus menulis atau berbicara dalam bahasa english, selalu gagap. Seolah selalu ada yang nyangkut di otak. Padahal, kosakata dalam english sudah banyak yang diingat. Why? Mungkin, karena jarang mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali ke persoalan ngeblog in english. Dengan melatih diri menulis blog dengan bahasa inggris, mau tak mau, pasti akan meningkkatkan kemampuan berbahasa kita. Kita akan terlatih untuk berkenalan akrab dengan kosakata baru. Bahasa inggris akan menjadi bahasa sehari-hari, sama seperti bahasa indonesia ataupun bahasa ibu.

Ngeblog in english? Siapa takut.

(hatur nuhun untuk Pogung177 yang menambah semangat orang2 indonesia untuk menulis dalam bahasa inggris)

22 December 2007

the power of spiritual

the power of spiritual

The power of spiritual forces in the Universe--how active it is everywhere! Invisible to the eyes, and impalable to the sense, it is inherent in all things, and nothing can escape its operation.

(I Ching)

Raih Kesempatan Pertama

Peluang datang siluh berganti. Tak henti-henti. Masalahnya, bagaimana kita melihat peluang, kemudian menangkap secepatnya. Saya sangat yakin, bahwa peluang tak pernah habis. Ada begitu saja di depan mata.

Baru-baru ini, saya mendapat tawaran usaha. Peluang ini benar-benar di luar perkiraan sebelumnya: tawaran pembelian bibit beringin untuk bonsai. Ini tak terpikirkan sejak dahulu. Apa yang ada dalam benak saya paling membuka cafe atau kantor jasa informasi atau membuka minimarket. Ide-ide standar untuk sebuah usaha. Sebagian besar orang memikirkan hal yang sama.

Setelah mengecek beberapa situs internet dan bertanya ke sejumlah orang, ternyata bisnis tanaman hias di Indonesia sangat bagus. Tak kalah omzetnya dengan usaha kafe ataupun restoran. Ide-ide usaha yang jarang diperhatikan, ternyata menghasilkan banyak uang. Coba saja dicek berapa besar penghasilan pengusaha sampah plastik. Pasti tak jauh beda dengan pengusaha makanan ringan (cemilan), pengusaha ayam pedaging, dan pengusaha teh kemasan.

Ini artinya, banyak peluang untuk tenaga kerja di Indonesia. Apalagi untuk lulusan sarjana yang masih menganggur. Coba cari ide-ide usaha, ide-ide yang jarang diperhatikan. Disitu peluang masih tersedia.

Jadi, saatnya kita menangkap peluang pertama. Peluang yang hadir di depan kita saban hari. Selamat menangkap peluang!

14 December 2007

Membangun Karakter Bangsa dan Peran UPI Bandung

Membangun karakter bangsa yang kuat memang diperlukan seorang pemimpin bangsa yang kuat. Namun, ada upaya lain yang tak kurang pentingnya, yakni pendidikan. Dalam konteks ini, perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), punya peran besar dalam membangun karakter bangsa. Salah satu peran penting UPI Bandung dewasa ini adalah merancang sistem nilai yang lebih layak (humanistik) bagi siswa dan mahasiswa Indonesia dengan mempertimbangkan filosofi dan karakter (kecerdasan emosional dan spiritual) yang ”khas Indonesia” yang syukur-syukur dapat digunakan secara nasional kelak.

(Prof. DEDDY MULYANA, Ph.D., Karakter Bangsa, Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007).



pembangunan karakter, pendidikan kebangsaan

“Pembangunan bidang pendidikan harus sinergis dengan pembangunan di bidang ekonomi, politik dan bidang lainnya. Pembangunan karakter melalui pendidikan tidak akan berhasil, jika infrastruktur untuk itu tidak mendukung.”

“Pendidikan kebangsaan mesti diangkat dan diposisikan kembali secara jelas sebagai satu inti dari upaya pendidikan bangsa untuk membangun karakter bangsa.”

Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007)




pendidikan dan peradaban

Pendidikan itu tak lain adalah proses pembudayaan, pendidikan itu penting untuk membangun peradaban. Dalam makna yang lebih spesifik, pendidikan itu tak lain dimaksudkan untuk memperkaya kehidupan seseorang. Hal ini dapat dicapai melalui penguasaan keterampilan dasar dan pengembangan kemampuan intelektual yang lebih mendalam yakni berpikir kritis, selain mampu memahami dan menghargai warisan budaya serta pengetahuan dan kecakapan bagi pengembangan kariernya di masa yang akan datang. Tak kalah pentingnya penanaman nilai-nilai yang bertalian dengan kesadaran sebagai warga negara.

Prof. DR. Rusli Luthan, Pembantu Rektor III UPI Bandung. (Sandarkan pada Budaya, Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007)

Ahmad Saifuddin: Beras dan Kapitalisme

indonesia, beras, kapitalisme
Indonesia adalah negara dunia ketiga yang menyusun pola pembangunan nasionalnya, bersamaan dengan perkembangan teori-teori pembangunan yang berlangsung di negara-negara maju. Karena itu, politik ekonomi yang dipakai di Indonesia diwarnai oleh struktur kapitalisme dunia, termasuk dalam pembangunan pertaniannya. Pembangunan perberasan nasional pun tak luput dari pengaruh tersebut. Apalagi Indonesia sangat
menggantungkan pembangunan pertaniannya kepada beras, setidaknya secara psikologis dan politik.


multidimensi beras
Beras merupakan komoditas pangan yang memiliki kedudukan unik di Indonesia, karena tidak saja berdimensi ekonomi dan sosial, tetapi juga politik dan budaya.


beras, konsumsi tinggi
Secara empiris terbukti, Indonesia tidak pernah dapat melepaskan diri dari persoalan beras. Karena jumlah penduduk yang besar dan konsumsi yang semakin tinggi.


(Suara Karya Online, 19 Desember 2006)

10 December 2007

Launa: Perempuan dan Politik Patriarkis

perempuan era pergerakan

Spirit perempuan era pergerakan tidak cuma gigih dalam menyuarakan hak-haknya, tetapi juga berani turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa.


kuasa politik: banal dan binal

Kuasa politik bukan cuma membuat para aktornya menjadi banal (politik haus kuasa), tapi juga binal (bukan cuma haus uang dan kuasa, tapi juga sarat syahwat).


menentang pandangan stereotip

Gerakan feminis menentang pandangan stereotif yang berpotensi memarjinalisasi peran perempuan sebatas fungsi domestiknya, bukan dalam konteks kehidupan publik yang lebih luas.


perjuangan keadilan jender

Perjuangan untuk mencapai keadilan jender di negeri ini sepertinya masih butuh waktu panjang. Dalam masyarakat yang telanjur meyakini kodrat perempuan sebagai makhluk lemah dan kurang cerdas dibutuhkan kerja keras guna mengkonstruksi isu jender dalam frame pluralisme-demokratis (non-patriarkis) sebagai prioritas kebijakan negara. Dengan demikian tatanan masyarakat berkeadilan jender bisa benar-benar terwujud.


Launa, Program Officer ALNI Indonesia/dosen Ilmu Politik FISIP-Universitas Bung Karno. (Suara Karya Online, 21 Desember 2006).

06 December 2007

Mari Bersatu!

oleh Thaib Ibrahim (Parabek)

- Menyokong Bung Karno yang selamanya mencari persatuan, terutama persatuan Marhaen.



Indonesia tanah airku,

Disanalah asal-usulku,

Asal ibu beserta bapakku,

Moga dimuliakan wahai saudaraku.


Marilah teman serta saudara,

Kita bekerja buat INDONESIA,

Berpencaran sekalipun peluh kemuka,

Asal tercapai tujuan kita.


Tetapi ingat teman sejawat,

Masyarakat kita dalam melarat,

Seperti lidi, belum terikat,

Sebab itu kekuatan sukar didapat.


Inilah penyakit yang kita derita,

Teman saudara tolonglah kiranya,

Mencari obat dengan segera,

Supaya sembuh deritaan kita bersama.



Marilah mari hai sahabatku,

Hanya BERSATU akan obatnya itu!

Boleh terlepas dari deritaan itu,

Cita-cita yang mulia tercapai tentu…


[Fikiran Ra’jat, nomor 22, 25 Desember 1932]

Susilo Bambang Yudhoyono dan FKPPI

Berikut petikan sambutan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Munas VIII Generasi Muda FKPPI, Bogor Jawa Barat, 29 Oktober 2007.

SBY dan FKPPI

Saya mencintai FKPPI dan rumah ini tentu rumah yang teduh, karena sebagaimana disampaikan oleh Adinda Dudhie Makmun Murod tadi, rumah bersama kita untuk mengabdi, untuk berjuang dan membangun bagi kepentingan bangsa dan negara kita.

Sumpah Pemuda dan FKPPI

Sumpah Pemuda hakikatnya adalah menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air satu, tanah air Indonesia, yang berbahasa satu, Bahasa Indonesia, pegang itu. Manakala ada pikiran-pikiran lain untuk keluar dari situ berarti mengingkari Sumpah Pemuda, mengingkari kodrat berdirinya Negara Indonesia. Dan saya kira FKPPI betul, harus berdiri di barisan paling depan untuk menghadapi mereka yang mengingkari Sumpah Pemuda.

Darah FKPPI

Darah FKPPI adalah pembangunan. Karakternya terus-menerus membangun negeri kita menuju keadaan yang lebih baik, meskipun selalu ada masalah, ada dinamika, ada gonjang-ganjing, tetapi membangun negara satu hari pun nggak boleh berhenti, tidak boleh absen.

Nah, disitu FKPPI juga terus-menerus ikut dalam pembangunan bangsa. Di Pusat maupun di Daerah, bahkan saya kira banyak putra-putri FKPPI yang berada di luar negeri, lakukan hal yang sama untuk negara kita. Pertanyaannya adalah, adakah peran seperti itu dapat dipertahankan, dapat diaktualisasikan? Jawabannya adalah pada FKPPI sendiri. Dapatkah diteruskan itu? Dapatkah diaktualisasikan? Insya Allah kalau tekadnya kuat Tuhan kasih jalan untuk FKPPI.

Demokrasi

Demokrasi yang kita tuju dan kita bangun bukanlah demokrasi yang absolute liberal. Kebebasan di atas segalanya dan tidak menyisakan harmoni. Kebebasan yang tidak disertai dengan etika dan moral dan tanggung jawab. Bukan itu. Meskipun kita sepakat kebebasan harus hadir. Kebebasan pers, hak azasi, semua harus hadir karena kalau itu tidak muncul bangsa itu merugi dan masa depannya tidak cerah. Namun demikian demokrasi harus bergandengan dengan rule of law, harus bergandengan dengan harmoni di antara kita semua. Demokrasi itulah yang hendak kita bangun. Saya tidak bermaksud menamai demokrasi apa. Dulu ada istilah demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, demokrasi proporsional dan seterusnya. Saya mengatakan ya demokrasi yang hendak kita bangun bersama. Saya kira mari kita menuju ke situ. Bangsa yang majemuk, bangsa yang tentu memiliki sumber-sumber barangkali konflik, yang mudah-mudahan kita jadikan kekuatan bukan kelemahan, itu tidak boleh tidak menyisakan harmoni, kerukunan, persaudaraan, persatuan, dan tidak boleh diwarnai hanya kebebasan yang mutlak dalam kesehariannya.

Perang dan Politik

Saya Jenderal, 30 tahun saya mengabdi di TNI, tidak mungkin, disamping mengingkari sumpah saya kepada Undang-Undang Dasar, juga tidak mungkin kita lepas satu jengkal tanah pun di negeri ini. Caranya bagaimana? Banyak, caranya banyak, war is continuation of politic by other means, war is the last reason in defending national interest. Artinya perang adalah kelanjutan dan politik dengan cara lain, perang adalah jalan terakhir yang kita lakukan untuk mencapai kepentingan nasional. Kalau masih dengan diplomasi bisa, diplomasi. Kalau masih bisa dengan negosiasi bisa, negosiasi. Kalau nggak bisa ya perang.

Politik bebas-aktif

Saya ingin menjalankan politik bebas dan aktif. Saya ingin menjalankan all direction foreign policy, ASEAN utamanya, Asia Timur dan Asia, tetangga-tetangga terdekat kita, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Amerika dan lain-lain. Kita harus menggunakan kesempatan globalisasi, kerjasama dengan negara-negara sahabat yang benar-benar fair, adil, mendatangkan manfaat, mendatangkan keuntungan, benefit, mendatangkan atau memenuhi kepentingan nasional kita. Tidak mungkin kita kerjasama dengan satu, dua negara yang merugikan kita, pegang itu, tidak mungkin. Oleh karena itulah kita lakukan kerjasama sebaik-baiknya dan saudara-saudara supaya tahu kita ini punya prinsip yang kuat.

(http://www.presidensby.info/index.php/pidato/2007/10/29/779.html)

04 December 2007

Teater, Benny Yohanes, Lagu

Kini sedang baca-baca tulisan Benny Yohanes ihwal teater. Tetapi sebenarnya lebih memperhatikan konsep-konsep yang ditelurkannya. Walau sudah jarang berkumpul lagi dengan seniman teater, namun masih memperhatikan perkembangan terkini teater Indonesia (dan kadang-kadang teater dunia). Untuk mengamati pertumbuhan teater yakni dengan membaca ulasan pertunjukan, berita pertunjukan, blog, ataupun dengan memperhatikan gosip-gosip yang beredar dari mulut ke mulut.

Salah satu tulisan yang mendapat perhatian ialah ulasan-ulasan teater yang ditulis oleh Benny Yohanes. Dari dulu, kalau sempat, dikumpulkan satu demi satu tulisannya. Mengapa? Karena dari ulasan yang dibuatnya kita dapat melihat gambaran pertumbuhan teater Indonesia. Ia rajin menonton teater, rajin mengumpulkan renik-renik teater, serta senang pula mengulas pertunjukan. Dalam ulasannya, ia kerap menggunakan pisau bedah yang dibuatnya sendiri. Istilah-istilah teater sendiri, sudut pandang sendiri, catatan-catatan personal.

Ini daftar ulasan yang pernah ditulisnya (yang terkumpul dalam rekaman dokumentasi pribadi):

- Teks Lateral dan Antagonis Kontemporer dalam Teater (2004)

- Ambiguitas Teater Realisme di Indonesia Teater Nasionalistis & Pseudo-Eropa (2004)

- Jejak Realisme dan Individualisme yang Mengendur, Pengalaman Teater di Indonesia (2004)

- Menonton "Zoom" Teater Mandiri di TIM, Teater Piktografik di Dunia Koyak (2004)

Ini yang berbentuk file, ada lagi yang tersimpan berupa guntingan koran. Untuk apa semua ini dikumpulkan dan dibaca kembali. Tak lain untuk merangkai gerak-gerik ideologi teater Indonesia. Sekaligus untuk melanjutkan kembali catatan perjalanan histori teater karya Jakob Sumardjo yang terhenti pada batas tahun 1990-an. Masih banyak dokumentasi tertulis yang tersimpan dalam lemari (kliping koran, buku, naskah drama, poster). Sedangkan untuk dokumentasi dalam bentuk foto dan video masih sedikit.

NOTE:

Sambil baca ulasan (dan menyusun rangkuman) teater Benny Yohanes terasa nyaman mendengarkan lagu Madonna, Linkin Park, Maksim, and Meatloaf. Maksudnya, lebih menyenangkan menonton teater, apalagi terlibat langsung dalam produksi, ketimbang mengulas pertunjukan.

Seruan Ibu Indonesia

oleh Ibu



O, anak-anakku tua dan muda,

Insaf dan sadarlah kamu semua,

Ibumu ini hidupnya melarat,

Tiga ratus tahun diikat erat


Tiga ratus tahun bunda diikat,

Menanggung sengsara, sakitlah sangat.

Tetapi anakanda tidak perduli,

Walaupun rusak bangsa dan negeri.


Apa anakanda tidak merasa,

Segala harta pusakanya bangsa,

Segala hasil tanah dan negeri,

Diambil imperialis dibagi-bagi?


Apa anakanda tidak bermalu,

Ibumu ini terhina selalu,

Tidak dihargai oleh lain bangsa,

Sebab bangsamu belum berkuasa?


Sebab itu bangun, sadarlah anakku,

Rapat barisanmu, ayo bersatu,

Bekerjalah kamu bersama-sama,

Agar merdeka, negeri dan bangsa.


[Fikiran Ra’jat, nomor 23, 2 Desember 1932]

Bangsaku, Bersatulah!

oleh Abdoel Hadi



Kalau kupikir kukenang-kenang,

Hatiku duka merasa pilu:

Lautan besar rasa kurenang,

Pekerjaan berat sukar terlalu.



Indonesia Merdeka dicita-cita,

Menjadi kenangan setiap waktu

Tetapi apa hendak dikata,

Bangsaku belum lagi bersatu.


Mereka mengaku ingin merdeka,

Baris persatuan lenggang dan jarang;

Bagaimana dapat tampil kemuka

Kalau kekuatan kita kurang.


Saudaraku sebangsa setanah air,

Dengar apalah aku berseru!

Indonesia Merdeka supaya lahir,

Hilangkan sifat tengkar cemburu!


Wahai saudaraku, bangsa melarat,

Supaya dapat apa dicita,

Aturlah barisan kuat dan rapat,

Sepahit semanis, seia sekata!



[Fikiran Ra’jat, nomor 19, 4 November 1932]

03 December 2007

Nasionalis

hari ini, di gedung indonesia menggugat, bertemu dengan seorang nasionalis. pendukung setia SUKARNO. asal Pati, Jawa Tengah. Katanya sudah berkeliling dari Bali hingga Bandung. kagum juga dengan semangatnya untuk menyebarkan pesan SUKARNO: Indonesia masih tetap harus diperjuangkan. sekuat tenaga. rakyat (marhaen) harus tetap mendapat perhatian. para marhaen harus diutamakan, bukan hanya dijadikan omong kosong saja.

pakaian hitam-hitam. ramah, dan pandai menyatakan pendapat. ia, nasioalis tulen yang berkeliling negeri ini dengan biaya sendiri. tanpa pamrih, tanpa lelah, menyebarkan ajaran-ajaran bung karno.

namanya SOEKARYA

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More