loading...
Home » » Susilo Bambang Yudhoyono dan FKPPI

Susilo Bambang Yudhoyono dan FKPPI

Berikut petikan sambutan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Munas VIII Generasi Muda FKPPI, Bogor Jawa Barat, 29 Oktober 2007.

SBY dan FKPPI

Saya mencintai FKPPI dan rumah ini tentu rumah yang teduh, karena sebagaimana disampaikan oleh Adinda Dudhie Makmun Murod tadi, rumah bersama kita untuk mengabdi, untuk berjuang dan membangun bagi kepentingan bangsa dan negara kita.

Sumpah Pemuda dan FKPPI

Sumpah Pemuda hakikatnya adalah menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air satu, tanah air Indonesia, yang berbahasa satu, Bahasa Indonesia, pegang itu. Manakala ada pikiran-pikiran lain untuk keluar dari situ berarti mengingkari Sumpah Pemuda, mengingkari kodrat berdirinya Negara Indonesia. Dan saya kira FKPPI betul, harus berdiri di barisan paling depan untuk menghadapi mereka yang mengingkari Sumpah Pemuda.

Darah FKPPI

Darah FKPPI adalah pembangunan. Karakternya terus-menerus membangun negeri kita menuju keadaan yang lebih baik, meskipun selalu ada masalah, ada dinamika, ada gonjang-ganjing, tetapi membangun negara satu hari pun nggak boleh berhenti, tidak boleh absen.

Nah, disitu FKPPI juga terus-menerus ikut dalam pembangunan bangsa. Di Pusat maupun di Daerah, bahkan saya kira banyak putra-putri FKPPI yang berada di luar negeri, lakukan hal yang sama untuk negara kita. Pertanyaannya adalah, adakah peran seperti itu dapat dipertahankan, dapat diaktualisasikan? Jawabannya adalah pada FKPPI sendiri. Dapatkah diteruskan itu? Dapatkah diaktualisasikan? Insya Allah kalau tekadnya kuat Tuhan kasih jalan untuk FKPPI.

Demokrasi

Demokrasi yang kita tuju dan kita bangun bukanlah demokrasi yang absolute liberal. Kebebasan di atas segalanya dan tidak menyisakan harmoni. Kebebasan yang tidak disertai dengan etika dan moral dan tanggung jawab. Bukan itu. Meskipun kita sepakat kebebasan harus hadir. Kebebasan pers, hak azasi, semua harus hadir karena kalau itu tidak muncul bangsa itu merugi dan masa depannya tidak cerah. Namun demikian demokrasi harus bergandengan dengan rule of law, harus bergandengan dengan harmoni di antara kita semua. Demokrasi itulah yang hendak kita bangun. Saya tidak bermaksud menamai demokrasi apa. Dulu ada istilah demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, demokrasi proporsional dan seterusnya. Saya mengatakan ya demokrasi yang hendak kita bangun bersama. Saya kira mari kita menuju ke situ. Bangsa yang majemuk, bangsa yang tentu memiliki sumber-sumber barangkali konflik, yang mudah-mudahan kita jadikan kekuatan bukan kelemahan, itu tidak boleh tidak menyisakan harmoni, kerukunan, persaudaraan, persatuan, dan tidak boleh diwarnai hanya kebebasan yang mutlak dalam kesehariannya.

Perang dan Politik

Saya Jenderal, 30 tahun saya mengabdi di TNI, tidak mungkin, disamping mengingkari sumpah saya kepada Undang-Undang Dasar, juga tidak mungkin kita lepas satu jengkal tanah pun di negeri ini. Caranya bagaimana? Banyak, caranya banyak, war is continuation of politic by other means, war is the last reason in defending national interest. Artinya perang adalah kelanjutan dan politik dengan cara lain, perang adalah jalan terakhir yang kita lakukan untuk mencapai kepentingan nasional. Kalau masih dengan diplomasi bisa, diplomasi. Kalau masih bisa dengan negosiasi bisa, negosiasi. Kalau nggak bisa ya perang.

Politik bebas-aktif

Saya ingin menjalankan politik bebas dan aktif. Saya ingin menjalankan all direction foreign policy, ASEAN utamanya, Asia Timur dan Asia, tetangga-tetangga terdekat kita, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Amerika dan lain-lain. Kita harus menggunakan kesempatan globalisasi, kerjasama dengan negara-negara sahabat yang benar-benar fair, adil, mendatangkan manfaat, mendatangkan keuntungan, benefit, mendatangkan atau memenuhi kepentingan nasional kita. Tidak mungkin kita kerjasama dengan satu, dua negara yang merugikan kita, pegang itu, tidak mungkin. Oleh karena itulah kita lakukan kerjasama sebaik-baiknya dan saudara-saudara supaya tahu kita ini punya prinsip yang kuat.

(http://www.presidensby.info/index.php/pidato/2007/10/29/779.html)

0 komentar: