loading...
Home » » Membangun Karakter Bangsa dan Peran UPI Bandung

Membangun Karakter Bangsa dan Peran UPI Bandung

Membangun karakter bangsa yang kuat memang diperlukan seorang pemimpin bangsa yang kuat. Namun, ada upaya lain yang tak kurang pentingnya, yakni pendidikan. Dalam konteks ini, perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), punya peran besar dalam membangun karakter bangsa. Salah satu peran penting UPI Bandung dewasa ini adalah merancang sistem nilai yang lebih layak (humanistik) bagi siswa dan mahasiswa Indonesia dengan mempertimbangkan filosofi dan karakter (kecerdasan emosional dan spiritual) yang ”khas Indonesia” yang syukur-syukur dapat digunakan secara nasional kelak.

(Prof. DEDDY MULYANA, Ph.D., Karakter Bangsa, Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007).



pembangunan karakter, pendidikan kebangsaan

“Pembangunan bidang pendidikan harus sinergis dengan pembangunan di bidang ekonomi, politik dan bidang lainnya. Pembangunan karakter melalui pendidikan tidak akan berhasil, jika infrastruktur untuk itu tidak mendukung.”

“Pendidikan kebangsaan mesti diangkat dan diposisikan kembali secara jelas sebagai satu inti dari upaya pendidikan bangsa untuk membangun karakter bangsa.”

Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007)




pendidikan dan peradaban

Pendidikan itu tak lain adalah proses pembudayaan, pendidikan itu penting untuk membangun peradaban. Dalam makna yang lebih spesifik, pendidikan itu tak lain dimaksudkan untuk memperkaya kehidupan seseorang. Hal ini dapat dicapai melalui penguasaan keterampilan dasar dan pengembangan kemampuan intelektual yang lebih mendalam yakni berpikir kritis, selain mampu memahami dan menghargai warisan budaya serta pengetahuan dan kecakapan bagi pengembangan kariernya di masa yang akan datang. Tak kalah pentingnya penanaman nilai-nilai yang bertalian dengan kesadaran sebagai warga negara.

Prof. DR. Rusli Luthan, Pembantu Rektor III UPI Bandung. (Sandarkan pada Budaya, Pikiran Rakyat, 22 Oktober 2007)

0 komentar: