loading...
Home » » Meliput Isu-isu Toleransi Beragama

Meliput Isu-isu Toleransi Beragama

Meskipun Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia dan UUD yang memayungi semua hukum menjamin kebebasan beragama namun praktik hidup dalam keberagaman agama di Indonesia tak mudah.  Kita bisa melihat itu dari beberapa kali peristiwa konflik yang mengatasnamakan agama. Peristiwa di Ambon, penyerangan terhadap penganut Ahmadiyah di Lombok hingga berujung tragedi kemanusian di Cikeusik serta kesedihan warga GKI Yasmin di Bogor yang tak kunjung bisa beribadah di gereja mereka.  Keberagaman yang tak terawat dengan baik membuat Indonesia terus menyimpan potensi konflik atas nama agama. Potensi itu tergambar dari berbagai survey yang menunjukkan toleransi antar umat beragama makin menipis.
Namun pada sisi lain sejarah juga mencatat Indonesia tetap bertahan, utuh. Ini karena disaat bersamaan, tanpa banyak dapat sorotan, dalam masyarakat inisiatif menumbuhkan toleransi juga berjalan. Inisiatif itu sebagian merupakan warisan masa lalu yang mengajarkan kehidupan beragam melalui berbagai media maupun diciptakan merespon peristiwa intoleransi yang terjadi belakangan ini.

Berangkat dari catatan ini, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) bekerjasama dengan Kedutaan Selandia Baru, mengadakan Pelatihan Jurnalistik �Meliput Isu-isu Toleransi Beragama�; pelatihan khusus bagi jurnalis dalam meliput perihal keberagaman di Indonesia. Pelatihan ini akan mengasah kemampuan peserta dalam membuat laporan tentang isu-isu toleransi beragama yang memenuhi standar kode etik dan profesional jurnalistik dan mendukung perdamaian, toleransi dan keberagaman.

Peserta akan dibimbing oleh para trainer jurnalis senior berpengalaman dan berdiskusi langsung dengan para nara sumber terkait dalam pelatihan yang akan dilaksanakan di Jakarta, tanggal 13 – 17 Februari 2012. Pelatihan akan berlangsung dalam bentuk diskusi, simulasi dan praktik.

Tujuan akhir dari pelatihan adalah membuat peserta memahami masalah dan teknik-teknik liputan khusus tentang hubungan antar agama, memiliki rencana dan persiapan matang untuk melakukan liputan bertema masalah agama dan membuat laporannya diterbitkan atau disiarkan di media masing-masing.

> PPMN menyediakan dana bantuan untuk liputan bagi yang berhasil menyelesaikan liputan pasca pelatihan
> Biaya transportasi dan akomodasi disediakan panitia
> Deadline aplikasi : 27 Januari 2012
> Bagi mereka yang menyelesaikan liputannya setelah pelatihan akan mendapat insentif khusus

Kirimkan lamaran dengan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Peserta adalah jurnalis Indonesia yang bekerja full time/free lance di media cetak/online, tv dan radio berpengalaman minimal 4 tahun.
2. Biodata ( harap download form biodata pada website www.ppmn.or. id )
3.  Surat referensi (min. 2 buah) dari atasan langsung dan/atau pihak lain
4. Copy contoh-contoh karya jurnalistik (min. 2 contoh)
5. Ide rencana peliputan bertema hubungan atau konflik antar agama yang akan diibahas selama training & akan dikerjakan setelah training (min. 2 ide)

Biaya training : Rp 500.000 (Peserta baru diminta melunasi pembayaran setelah dinyatakan lolos seleksi, PPMN akan mengganti biaya transportasi dari kota asal ke Jakarta-pp dan disediakan akomodasi gratis selama pelatihan).

Kirimkan syarat-syarat pendaftaran ke Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara, Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Timur 13120 atau e-mail : info@ppmn.or. id atau info.ppmn@yahoo. com paling lambat tanggal 27 Januari 2012.

Info lebih lanjut hubungi : Vera/Cecile 021-68594538, 021-85903865 atau kunjungi www.ppmn.or. id

Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (Indonesian Association for Media Development) adalah lembaga yang menjalankan program-program nonprofit untuk pengembangan profesionalisme media dan perluasan akses informasi di Indonesia dan kawasan Asia . PPMN menyelenggarakan berbagai pelatihan jurnalistik dengan tema khusus seperti jurnalisme investigatif kasus korupsi dan lingkungan, membaca laporan keuangan untuk wartawan, dll melibatkan beberapa trainer internasional seperti Jose Ruben Zamora (Harian El Periodico, Guatemala), David O’Shea (SBS TV), Kelly McEvers (NPR/BBC), Malou Mangahas (Philippines Centre for Investigative Journalism). Sementara di tingkat nasional Hasudungan Sirait (freelance journalist), Dandhy Dwi Laksono (free lance tv journalist), Metta Dharmasaputra (Tempo), Harry Soerjadi (jurnalis lingkungan/Knight Fellowship) juga pernah menjadi mentor ataupun nara sumber. Hasil liputan para alumni training PPMN berkali-kali memenangkan
penghargaan jurnalistik Mochtar Lubis Award, Anugerah Adiwarta Sampoerna dan Indonesian Radio Awards.

1 komentar: