loading...
Home » » Indonesia Merdeka

Indonesia Merdeka


“... Merdeka tidak tergantung pada jumlah jiwa yang melek huruf, tetapi pertama-tama adalah soal adanya lembaga-lembaga demokrasi dan semangat kaum intelektualnya ... Indonesia dapat memenuhi kedua syarat ini. Semboyan ‘tidak masak’ (untuk merdeka) adalah suatu khayalan Belanda untuk meninabobokan hati nuraninya yang gelisah dan menutupi keserakahannya maka mungkin sekali ia akan bertanya, apakah sebab negara-negara seperti Liberia, Abessinia, Hejaz, Yemen dan
lain-lain ‘masak’ untuk memerintah sendiri, padahal di bidang kebudayaan dan kecerdasan negara-negara itu jelas terbelakang dibandingkan dengan Indonesia? ... Apa yang dilakukan oleh Amerika untuk Filipina dalam waktu hanya 18 tahun, tidak dapat dicapai oleh Nederland setelah tiga abad …”



Dalam pembelaan “ Indonesia Merdeka“, Hatta mengaitkan hubungan antara kapitalisme dan imperialisme. Kapitalisme membutuhkan bahan mentah, tempat menanamkan modal sekaligus pasar untuk produk-produk mereka. Itulah sebabnya, gurita imperialisme berkembang di muka bumi, hingga menjangkau zamrud khatulistiwa yang bernama Indonesia.

Pembelaan ini memuat pula sejarah perjuangan bangsa Indonesia menentang kolonialisme di Hindia Belanda. Hatta tidak hanya mengurai liku-liku perjalanan Perhimpunan Indonesia, namun juga gerak-gerik perkumpulan Boedi Oetomo dan lainnya.

Hatta menjelaskan faktor-faktor politik dan psikologis yang menyebabkan munculnya pergerakan politik anti-kolonial pada kaum muda. Perkumpulan pergerakan semisal Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Indonesia Muda lahir dari siswa-siswa di sekolah menengah. Hal yang unik, mengingat di negeri-negeri lain, terutama Eropa, pelajar maupun mahasiswa lebih fokus pada pelajaran sekolah dan bersenang-senang. Berbeda sekali dengan orang muda di Indonesia. Mereka tumbuh berkembang di masyarakat kolonial yang keras dan pahit, rakyat yang tersiksa karena harus membayar pajak tinggi, tidak ada lowongan pekerjaan yang menanti, terhina karena pertentangan rasial yang tajam, serta hak kewarganegaraan yang teraniaya.

Orang muda di Indonesia menjadi dewasa karena hidup di tengah duka dan sengsara rakyat. Itu sebabnya, dalam benak orang muda dan organisasinya termuat pasal penting: meningkatkan kesejahteraan rakyat! Dan satu-satunya cara untuk mewujudkan niat tersebut yakni memerintah diri sendiri dan memilih sendiri bentuk pemerintahan yang sesuai dengan watak dan harapan rakyat. Kemerdekaan tanah air yang hanya dapat dicapai dengan mencucurkan air mata, darah, dan keringat sendiri.


*
Mohammad Hatta lahir 1902 di Bukittinggi. Sejak mengenyam pendidikan di MULO, ia sudah terlibat dalam pergerakan. Saat itu Hatta masuk ke sebuah perhimpunan kedaerahan, Jong Sumatranean Bond. Perhimpunan-perhimpunan kedaerahan kala itu sedang tren di kalangan kaum muda. Sejak 1916 muncul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Ambon, dan juga Jong Sumatranean Bond.

Namun untuk pelajaran politik, Hatta lebih banyak menimba di Indische Vereniging. Indische Vereeniging, 1908, berdiri atas prakarsa Sutan Kasayangan dan Noto Suroto. Perkumpulan pelajar dan mahasiswa Hindia di negeri Olanda ini awalnya bertujuan untuk pesta-pesta dan pidato-pidato. Kedatangan R.M. Suwardi Surjaningrat, Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker ke Olanda, 1913, menyebabkan perubahan haluan perhimpunan. Kedua tokoh ini memberikan petuah agar pelajar dan mahasiswa Hindia di negeri Olanda turut memikirkan tanah airnya. Sejak itu, mereka sadar betapa berartinya organisasi tersebut bagi rakyat di Hindia. Tak lama kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Perubahan ini menandai penegasan tujuan perhimpunan nasionalis ini. Dalam nomor perdana majalah Indonesia Merdeka (1924) diterbitan Perhimpunan Indonesia dikatakan: Kita memasuki tahun baru dengan pakaian baru dan nama baru. Pergantian nama itu bukanlah merupakan hasil khayalan secara tiba-tiba, tetapi hanya merupakan penarikan garis yang dimulai dengan perubahan Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Ditambahkan pula, bahwa Indonesia Merdeka adalah suara Indonesia muda yang sedang belajar, suara yang pada waktu ini mungkin tidak terdengar oleh penguasa, tetapi pada waktunya nanti pasti akan didengar. Salah besar jika menganggap remeh suara itu sebab di belakang suara itu terdapat kemauan besar untuk merebut kembali hak-hak, cepat atau lambat, untuk menetapkan kedudukan atau keyakinan di tengah-tengah dunia, yaitu Indonesia Merdeka.

Perkumpulan pelajar bumiputra di negeri Olanda ini cukup segani karena berani menolak bekerjasama dengan Belanda. Mengutip pernyataan Mohammad Hatta tahun 1925:
“..Dengan memakai prinsip non-kooperatif, Perhimpunan Indonesia menghendaki suatu kebijaksanaan menyandarkan diri pada kekuatan sentdiri, yaitu suatu kebijaksanaan berdiri di atas kaki sendiri. Perhimpunan ini akan mengumandangkan perasaan hormat pada diri sendiri ke dalam kalbu rakyat Indonesia. Sebab hanya suatu bangsa yang telah menyingkirkan perasaan tergantung saja yang tidak takut
akan hari depan. Hanya suatu bangsa yang faham akan harga dirinya maka cakrawalanya akan terang-benderang. Perhimpunan Indonesia ingin mendidik bangsanya sendiri dan membuatnya kukuh kuat…”

Apalagi ketika Hatta menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia, sejak tahun 1926 hingga 1930. Dari sekadar perkumpulan mahasiswa menjadi organisasi politik yang berpengaruh di Indonesia. Tak heran kemudian, Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) mengakui PI sebagai pos terdepan pergerakan nasional di benua Eropa. Atas pengakuan itu, PI semakin aktif melakukan propaganda “Indonesia yang merdeka dan berdaulat“ di Eropa. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Hatta dan kawan-kawannya memperkenalkan Indonesia ke Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussel (1927). Pada tahun yang sama, Hatta memberikan ceramah L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan) di Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan.

Pemberontakan PKI di pulau Jawa bulan November 1926 sangat mengejutkan
Pemerintah Belanda dan semenjak itu seluruh kaum pergerakan diawasi gerak-geriknya. Termasuk diantaranya aktivitas Perhimpunan Indonesia. Sikap non-kooperatif Perhimpunan Indonesia membuat Hatta bersama Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat ditangkap pada 1927. Mereka ditahan selama lima setengah bulan.

Perjanjian Hatta dan Samaoen dijadikan persoalan di pengadilan. Hatta juga dituding menerima bantuan dana dari Moskwo lewat Samaoen. Perhimpunan Indonesia disebut bekerjasama dengan PKI untuk menumbangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", Indonesia Merdeka. Dalan sidang pengadilan tersebut, Hatta menyatakan bahwa PI berusaha menguatkan eenheidgedachte bagi seluruh Bangsa Indonesia. Hatta juga menegaskan kembali konflik kepentingan antara negara penjajah dan daerah jajahan.

Menurut begawan sejarah Sartono Kartodirdjo, asas-asas Perhimpunan Indonesia yang disebut juga Manifesto Politik 1925 ialah fundamen dari Sumpah Pemuda 1928. Dalam manifesto tersebut termuat (1) perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia; (2) pemerintahan yang dikelola oleh bangsa sendiri atas pilihan sendiri; (3) kesatuan bangsa sebagai syarat utama perjuangan; dan (4) menolak bantuan dari penjajah maupun pihak lain.

**
Hatta, Sukarno, dan tokoh-tokoh muda lainnya ialah anak dari Politik Etis. Kebijakan politik ini memberikan kesempatan belajar bagi rakyat jajahan. Politik balas budi Belanda yang menanggung beban moral atas penjajahannya yang sudah berlangsung lama. Namun, hanya elit pribumi yang boleh menikmati pengetahuan dan keterampilan di sekolah menengah dan pendidikan tinggi.

Niat awal membuka kesempatan mengecap sekolah hanya untuk mempersiapkan para birokrat di Hindia Belanda. Tak diduga, banyak alumni sekolah-sekolah ini yang kemudian sadar dari hipnose kolonial, sadar akan posisinya yang terjajah dan terhina sebagai warga kulit sawo matang. Dari pijakan ini gagasan dan impian tentang Indonesia mulai terbentuk. Ujung-ujungnya, negeri yang merdeka dan sejahtera mulai didengung-dengungkan ke segala penjuru mata angin. Juga diperjuangan dengan pena, senjata dan pidato.

Arahman Ali

1 komentar:

Suara Indonesia said...

Kita harus berjuang meneruskan para pendiri bangsa ini dengan berprestasi sesuai bidang masing-masing. Merdeka!