loading...
Home » » Kedudukan Perempuan dalam Pergerakan

Kedudukan Perempuan dalam Pergerakan

Kedudukan Perempuan dalam Pergerakan
Nyi Sri Mangoensarkoro

Timbulnya Pergerakan
Orang yang bersamaan nasib, atau bersamaan kepentingan dan keinginan mempunyai nafsu bergolong menjadi satu “Gedeelde smart is halve smart”, kata peribahasa Belanda. Maka carilah yang satu hubungan dengan lainnya. Jika diantara mereka itu ada seorang persoonlijkheid, maka dapatlah ia menarik atau (dan) mendorong dan merupakan kekuatan sebagai motor. Dan kekuatan ini lebih sempurna lagi, kalau disertai dengan kecakapan-kecakapan mengatur dan menyatukan. Karena dorongan, tarikan dan pengaruh persoonlijkheid itu, maka tersusunlah segala kekuatan yang sama tujuannya menjadi satu kekuatan yang besar, yang terus bergerak maju kearah tujuannya yang pasti. Dalam perjalanannya itu maka makin lama makin besarlah persatuan kekuatan itu, karena lebih banyak orang yang mengikut dan mempersatukan diri lagi kepadanya, tertarik oleh maksud yang sama itu. Begitulah timbulnya pergerakan.

Tiang-tiang Pergerakan
Supaya pergerakan itu bisa teratur harus ada:
Tujuan yang pasti.
Organisasi yang rapi.
Semangat yang kuat dan baik.
Pemimpin yang berpersoonlijkheid, pemimpin yang berani hidup menurut bisikan hatinya.

Marilah empat perkara ini kita lihat. Orang yang ingin merubah keadaan-keadaan yang tidak disukai, atau akan mencapai suatu keadaan yang baru, lebih dahulu harus tahu benar-benar dan dengan nyata-nyata, apa yang dihendaki. Jika gambar kehendak itu sudah terang, segala-galanya dapat dipersatukan kearah kemauan yang satu itu. Ini dinamai tujuan yang pasti.
Besi-berani kecil-kecil tak ada kekuatannya, kalau tidak tersusun. Akan tetapi besi berani kecil-kecil yang disusun, dapat mempunyai khasiat menarik barang-barang logam. Sama saja keadaannya dengan orang. Orang banyak yang tidak teratur dan tersusun tidak membawa hasil apa-apa, bagaimanapun bagusnya kemauan. Orang banyak yang diatur dan disusun menurut hukum-hukum organisasi yang tentu dapat jadi suatu kekuasaan. Kekuasaan perlu sekali untuk mencapai sesuatu maksud. Oleh sebab itu kerapian organisasi tidak dapat terpisah dari pergerakan.
Organisasi dapat kita umpamakan sebagai rumah pergerakan. Rumah memberi perlindungan pada orang-orang yang didalamnya. Akan bersinarlah cahaya rumah, akan besar dan menariklah perbawa rumah, jika diantara orang-orang yang berlindung itu didapati suasana baik dan rukun. Demikian juga dengan organisasi.
Belum cukup kuatnya orang banyak yang teratur rapi dalam organisasi, kalau diantara mereka tidak ada suasana rukun dan damai. Karena itupun suasana rukun dan damai harus ditimbulkan, dipelihara dan ditujukan kepada maksudnya organisasi atau pergerakan. Suasana ini yang menjadi cambuk dan kekuatan pendorong dari pergerakan kita. Suasana yang kami gambarkan itu, kami namakan semangat yang kuat dan baik.
Tujuan pasti, organisasi rapi, semangat kuat dan baik, lalu dapat memimpin yang berpersoonlijkheid, pemimpin yang berani hidup menurut bisikan batin kemanusiaannya, pemimpin yang berani tanggung jawab, maka sempurnalah keadaan pergerakan dan akan lekas tercapailah maksudnya. Pergerakan yang demikian keadaannya, memaksa penghormatan pada kawan, maupun lawan.
Bangsa kita sekarang mempunyai pergerakannya juga, sebagai tiap-tiap bangsa lain yang sudah sadar akan keadaannya, nasibnya, kedudukannya dan hubungannya dengan bangsa-bangsa yang lain. Kalau kita katakan dengan satu perkataan apakah maksud pergerakan bangsa kita ialah perbaikan masyarakat bangsa kita, kearah segala jurusan. Perbaikan itu akan lebih lekas tercapai jika pergerakan kita lebih sadar dan lebih besar jumlah penganutnya.


Perempuan perlu masuk dalam Pergerakan
Cukup kiranya gambaran kami tentang arti pergerakan dengan kekuatannya. Sekarang datanglah saatnya membeberkan tentang kedudukan perempuan dalam pergerakan. Beberapa tabiat perempuan dapat berpengaruh baik pada pergerakan dalam perjalanannya, misalnya kehalusan perasaannya, kecermatannya, sifat pengorbanan dan kesungguhan hatinya. Menilik itu, sudah sepantasnya perempuan mencampuri dunia pergerakan.
Pergerakan tidak disebabkan kepandaian atau kepangkatan orang, akan tetapi semata-mata tingginya rasa kemanusiaan orang. Riwayat dunia cukup membuktikan ini. Ribuan perempuan yang tak berpengetahuan menceburkan diri dalam gerakan politik di Rusland, di India, dan di negeri lainnya. Mereka menjalankan itu, karena rasa kemanusiaannya merasa diinjak-injak, merasa tidak tahan mengalami suatu keadaan yang tidak adil atau bertentangan dengan kemanusiaan.
Tabiat-tabiat perempuan terbukti bisa menjadi kekuatan yang gaib, dan kekuatan gaib ini bisa menguatkan semangat perjuangan tetapi juga bisa melembekkan. Kalau demikian, beratlah tanggungan perempuan dalam dunia pergerakan. Ia dapat menjadi motor, kalau sadar; ia dapat menjadi racun, kalau tidak mengerti akan kedudukannya. Bagaimanakah dapat perempuan memenuhi kewajiban itu dalam pergerakan? Ini sama sekali bergantung kepada kecakapan, keinsafan, kekuatan dan kesempatan masing-masing.
Misalnya perempuan yang di rumah tidak mempunyai banyak kewajiban dan pekerjaan, sepantasnyalah turut aktif dalam pergerakan, apalagi jika syarat-syarat ada padanya. Perempuan yang harus menumpahkan segala kekuatan dan perhatiannya pada kewajiban kerumah-tanggaan dan kekeluargaan, cukuplah memperhatikan saja langkah dan gerak-geriknya pergerakan.
Dengan demikian dapatlah ia menyesuaikan kewajibannya kerumah-tanggaan dan kekeluargaan itu dengan aliran hidup dan aliran jaman. Lain halnya dengan perempuan yang mempunyai kecakapan dan keluar biasaan. Perempuan ini dapat turut bergerak didalam keadaan yang bagaimanapun juga. Pendek, tiap-tiap perempuan harus menetapkan sendiri, sampai berapakah dapatnya ia turut campur dengan dunia pergerakan. Penetapan ini harus didasarkan kepada keselamatan dan keberesan kewajiban dalam rumah-tangga dan keluarganya. Via rumah-tangga dan keluarga pun perempuan dapat turut memperkuat pergerakan.

Menuju Kedudukan Perempuan yang lebih tinggi
Jangan sekali-kali perempuan berpendirian: “Menyerah kepada kebaikan budi laki-laki”. Tiap-tiap perempuan wajib mencapai kedudukan yang setinggi-tingginya. Perempuan yang berpendirian menyerah saja, adalah perempuan yang sakit dan lemah jiwanya. Perempuan yang tidak pantas menjerit-jerit minta perbaikan nasib, perbaikan kedudukan, jika hidupnya menjadi merosot dan kalang-kabut. Hanya perempuan yang berusaha kepada perbaikan nasib, dapat menentukan nasibnya.
Kita harus mengoreksi diri kita sendiri yang lebih dalam lagi. Siapakah yang akan memberi kedudukan yang pantas kepada kita, jika kita tidak merebut atau menduduki tempat itu sendiri dengan segala syarat yang ada pada kita? Dalam segala lapangan hidup kedudukan perempuan harus diperiksa dan diselidiki, apa kemanusiaan sudah ada padanya. Sebab perempuan bukannya hidup diluar segala lapangan itu, melainkan hidup didalamnya benar-benar. Perempuan harus tahu turut mengatur gerak ombak dari segala lapangan hidup itu, yang berarti juga ia mengatur hidupnya sendiri. Hal ini sama saja dengan perempuan didalam rumah-tangganya. Jika perempuan dalam rumah-tangga tidak menetapi kewajibannya sebagai manusia, hanya memikirkan kesenangan belaka, hanya minta yang ringan dan enak saja, dan segala yang berat-berat diserahkan kepada sang suami, lihat apa yang akan terjadi nanti. Suaminya lama-kelamaan tentu tidak menghargai dan menghormati kepada isteri yang malas dan lemah kemauannya itu. Terbukalah sudah pintu untuk berbuat sewenang-wenang bagi suami terhadap isterinya. Sebab pagar yang dengan sekuat-kuatnya dapat membatasi perbuatan sewenang-wenang ialah penghargaan dan penghormatan.
Jika pintu ini terbuka, merosotlah kedudukan perempuan dalam rumah-tangganya sebagai manusia. Isteri yang demikian tidak lain, hanyalah sebagai barang. Kalau masih ada untungnya sedikit, ia menjadi barang perhiasan suaminya. Ia dipelihara, diurus dengan baik-baik, tetapi tidak sebagai manusia, melainkan sebagai barang perhiasan, barang emas-intan yang kita pelihara. Jika sebagai barang perhiasanpun isteri itu tidak dapat memenuhinya, apa boleh buat, lebih merosotlah lagi kedudukannya. Barangkali kurang lebih hanya sebagai budak belian (slavin) saja. Kedudukan kita dalam masyarakat demikian juga, kalau segala-galanya kita serahkan saja kepada pihak laki-laki untuk mengurusnya. Apa kita terima menjadi perhiasan atau budak belian (slavin) dari masyarakat kita?

Nomor Satu: Perbuatan!
Bilang “tidak mau kedudukan rendah” gampang. Akan tetapi berbuat supaya tidak dijadikan barang perhiasan atau budak belian itu sukar. Kedudukan yang pantas sebagai manusia, tidak dapat kita beli dari dukun gaib, walaupun kita dapat membayar bermiliun dollar pun. Pun dengan berdoa terus-menerus siang hari, tahun-bertahun kepada Tuhan, kita tidak dapat mencapai kedudukan kemanusiaan. Kita harus berusaha memperkuat jiwa kita, memperkuat kehendak kita untuk merubah keadaan diri kita. Dalam kekuatan jiwa perempuan letaknya kekuatan tenaga perempuan.
Pada masa ini banyak juga perempuan Indonesia yang dihinggapi oleh penyakit “kelemahan jiwa”. Apakah yang kita lihat sekarang ini yang paling banyak? Kesenangan, keenakan hidup, keplesiran, perhiasan, kebagusan dan sebagainya. Itu semuanya ada perlunya sebagai ontspanning atau penggirang hati. Dan penggirang hati itu mengentengkan hidup kita.
Itulah harganya keplesiran, keindahan, kesenangan dan perhiasan. Akan tetapi jika segala itu berkembang dengan melupakan kemajuan kemanusiaan wajiblah gerakan kesenangan itu dibatasi. Perempuan-perempuan yang malas pada kewajiban hidupnya, hanya gemar kepada keenakan dan kebagusan itu, jangan menyesal hatinya, kalau mereka digampangkan oleh suaminya. Janganlah kita hanya bisa menuntut hak kemanusiaan saja dengan tidak mampu dan mau menjalankan kewajiban kita yang benar-benar. Sebab kewajibanlah yang menetapkan hak orang.
Disitulah letak kewajiban yang maha-berat bagi para pemimpin pergerakan perempuan Indonesia, yaitu memberi contoh bersahaja pada saudara-saudaranya lain. Mereka berkewajiban mendidik kaum ibu Indonesia supaya memperkuat jiwanya disamping pekerjaan menuntut hak-hak kemanusiaan. Hanya kekuatan jiwa perempuan yang menjelma dalam tenaga perempuan dapat mengembalikan kedudukan kemanusiaan kita.
Kesimpulan
Untuk keperluan manusia dan kemanusiaan, untuk derajat manusia dan kemanusiaan, tiap-tiap perempuan baik miskin maupun kaya, baik rendah maupun tinggi, wajiblah bergerak, bergerak, sekali lagi bergerak. Bergerak dengan kekuatan jiwa yang dimasukkan dalam segala gerakan lahir, dalam segala realitas. Kekuatan jiwa ini akan menjadi soal baru yang sebaru-barunya bagi dunia. Peperangan jaman sekarang sudah menjadi bukti yang senyata-nyatanya, bahwa pada waktu ini jiwa manusia sedang menjadi budaknya pengetahuan dan teknik yang modern. Seakan-akan manusia tenggelam didalamnya, sampai ia bertuhan kepada pengetahuan dan teknik itu. Oleh karena itu lupalah manusia kepada Tuhan yang sejati. Lupalah manusia akan maksud hidupnya, yaitu Kemanusiaan. Kesombongan, kecongkakan dari si kuasa terhadap kepada yang rendah dan lemah berbangkitlah.
Sekarang datanglah waktunya manusia diingatkan akan segalanya itu. Manusia dibunuh dan dihancur leburkan oleh wetenschap dan teknik, pada hal wetenschap dan teknik sebenarnya adalah wahyu. Wahyu itu bukannya untuk kemegahan diri, melainkan untuk lebih-lebih menyempurnakan lagi kemanusiaan kita.
Dalam keadaan kalang-kabut dunia seperti ini, maka dunia lebih-lebih perlu kepada perempuan-perempuannya. Bukan perempuan-perempuan yang mau dijadikan alat kaum laki-lakinya untuk lebih-lebih mengalang-kabutkan lagi keadaan-keadaan, melainkan perempuan-perempuan yang sadar dan insaf akan kewajiban, panggilan jiwa dan panggilan waktunya. Perempuan-perempuan ini akan menjadi obor dalam dunia yang penuh kebuasan dan kekejian. Perempuan-perempuan yang cukup menyesuaikan diri kepada segala gerakan jaman dan cukup memelihara kekuatan jiwa, perempuan-perempuan itulah yang siap menerima kewajiban waktunya. Kapan dan dimanakah akan berdiri Perempuan-perempuan yang Besar itu?
Seluruh dunia menunggu!!!



Catatan:
Tulisan ini saya temukan di majalah Keboedajaan dan Masjarakat, No 9 Th II, 10 Januari 1941. Majalah Keboedajaan dan Masjarakat ini merupakan organ penyebaran pikiran Taman Siswa. Dari isi tulisan di atas, dapat kita tangkap semangat gerakan perempuan di Indonesia era 1940-an. Perempuan, menurut Nyi Sri Mangoensarkoro, harus ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Merdeka dari kekangan fisik dan penindasan pikiran. (arahman ali)

0 komentar: